Antisipasi Panic Buying, Pemerintah Bakal Batasi Pembelian Sembako


Prabumulih, Merdekasumsel.com - Panic buying akibat virus Corona atau Covid-19 tentunya berdampak kepada seluruh masyarakat terutama bagi pedagang, dengan merebaknya virus ini menyebabkan kelangkaan barang hingga meningkatnya harga sembako dan bumbu dapur.

Diketahui, meningkatnya harga sembako dan bumbu dapur telah terjadi di semua pasar terutama pasar Prabumulih, bahkan bukan hanya di pasar yang mengalami kenaikan harga tetapi pedagang kelontongan rumahan pun ikut merasakan kenaikan harga.

Seperti dikatakan Lisnawati (46) salah satu pedagang kelontong rumahan mengatakan jika yang paling terlihat kenaikan harganya adalah Gula dari harga Rp 14 ribu meningkat menjadi Rp 18 ribu rupiah bahkan bumbu dapur seperti Bawang.

"Sudah berapa minggu belakangan ini harga sembako meningkat karena virus Corona dan ini terasa kenaikan harganya bahkan pembeli juga makin sepi karena banyak menetap dirumah saja, biasanya walupun harganya meningkat pembeli tetap ramai. Takutnya nanti setelah harganya naik sering sekali kesulitan stok barangnya," ungkap Lisnawati ketika dibincangi di toko kelontongnya, jum'at (27/3/2020).

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Prabumulih, Ir H Pribadi Roso Sarosa melalui Kabid Perdagangan Hj Eviana SST mengatakan pada hari kamis (26/3/2020) kemarin telah melakukan Inspeksi mendadak (Sidak) ke beberapa retail atau agen besar yang ada di pasar prabumulih bersama dengan dengan Kasat Intel Polres prabumulih dan kanit polres prabumulih dan Staf ahli bidang pemkot prabumulih.

"Dari hasil sidak yang kami lakukan kemarin, hanya saja tidak tersedianya gula yang berupa kemasan yang biasa dijual dengan Harga eceran tetap Rp 12.500 rupiah di pasaran, gula yang biasanya dijual dengan harga Rp 14 ribu kini mencapai harga Rp 18 ribu rupiah per kilogramnya" tutur Evi ketika diwawancari diruang kerjanya, jumat (27/3/2020)

Lebih lanjut, Evi juga mengatakan untuk saat ini produksi gula dalam negeri hanya bisa mengcover 40 persen dari kebutuhan masyarakat, sementara 60 persen import dari luar negeri.

"Penyebabnya ini karena adanya pandemik Covid-19, import gula belum bisa dilakukan, karena negara yang menyediakan belum bisa melakukan pengiriman karena mengantisipasi penyebaran virus mematikan itu," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Suranti SP mengatakan jika untuk persedian gula pasir hanya cukup sampai bulan maret ini, lalu untuk stok beras dan terigu di prabumulih ini akan aman sampai tiga bulan kedepan.

"Dari hasil sidak di beberapa agen besar kemarin, untuk beras Prabumulih ada stok sebanyak 2390 ton dari kebutuhan 1561,8 ton per bulan, terigu tersedia 921 ton dari total kebutuhan sebesar 244,3 ton per bulan, jadi untuk beras dan terigu akan aman sampai tiga bulan kedepan," jelasnya.

Menghindari harga bahan pokok agar tidak makin melonjak, pemerintah saat ini sudah melakukan himbauan melalui agen, retail dan masyarakat untuk tidak Panic buying, sehingga ditetapkan aturan satu keluarga hanya bisa membeli beras 10 kg, gula 2kg, minyak 4L dan mie instan sebanyak 2 dus saja.

"Jika dilihat dari jumlah stok dan total kebutuhan tentu saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu minggu atau hanya aman sampai akhir maret," jelasnya.(FAP)

Share:

0 komentar:

Posting Komentar